(0)![]()
Analisis pertandingan antara Paris Saint-Germain dan Arsenal
Hanya sembilan klub dalam sejarah yang pernah menjalani satu musim penuh Liga Champions tanpa menelan kekalahan. Kini, Arsenal tinggal selangkah lagi untuk mencapai pencapaian istimewa tersebut. Namun, rintangan terakhir pasukan Mikel Arteta adalah PSG — sang juara bertahan Eropa dan juga tim pertama sejak Real Madrid pada musim 2016/17 dan 2017/18 yang berhasil mempertahankan tempat di final Liga Champions.
Pertarungan di Puskas Arena juga membangkitkan kenangan semifinal musim lalu, ketika PSG asuhan Luis Enrique mengalahkan Arsenal dalam dua leg dengan agregat 3-1 sebelum menghancurkan Inter 5-0 di final untuk meraih gelar Liga Champions pertama mereka. Meski demikian, dari lima pertemuan kedua tim di kompetisi ini, dua kemenangan tersebut masih menjadi satu-satunya kemenangan PSG atas Arsenal. The Gunners pernah mengalahkan PSG di fase liga musim lalu, sementara dua pertemuan pada musim 2016/17 berakhir imbang.
Perjalanan menuju Budapest ditempuh kedua tim dengan cara yang sangat berbeda. Arsenal membangun kesuksesan mereka melalui pertahanan yang sangat kokoh. Klub asal London Utara itu mencatat sembilan clean sheet dan hanya kebobolan empat gol sepanjang fase liga. Kemenangan atas Atletico, Bayern, dan Inter menunjukkan kedewasaan permainan The Gunners sebelum mereka kembali melewati tantangan berat di fase gugur melawan Leverkusen, Sporting Lisbon, dan Atletico sekali lagi.
Di sisi lain, PSG tampil memukau lewat sepak bola menyerang yang eksplosif. Sama seperti musim lalu, klub asal Paris itu memulai perjalanan dengan kurang meyakinkan dan harus melewati babak play-off untuk mencapai babak 16 besar. Namun semakin jauh mereka melangkah, semakin menakutkan permainan mereka, seolah mengulang kisah sukses musim sebelumnya.
PSG kini telah mencetak 44 gol di Liga Champions musim ini, hanya terpaut satu gol dari rekor Barcelona pada musim 1999/2000. Sosok sentral dalam kekuatan serangan tersebut adalah Khvicha Kvaratskhelia. Bintang asal Georgia itu telah mencatatkan 10 gol dan 6 assist sepanjang musim, termasuk 7 gol di fase gugur saat performanya mencapai puncak.
Setelah kemenangan impresif atas Atalanta, Leverkusen, Barcelona, dan Tottenham di fase liga, PSG kembali menunjukkan kelasnya di babak gugur dengan menyingkirkan Chelsea dan Liverpool sebelum menjalani semifinal dramatis melawan Bayern Munich.
Kini, dua tim terbaik Eropa musim ini akan saling berhadapan di laga terakhir musim kompetisi. Di bawah asuhan Arteta, Arsenal berkembang secara perlahan namun pasti: perempat final pada 2023/24, semifinal pada 2024/25, dan kini mencapai final pertama mereka sejak musim 2005/06.
Jika berhasil menang, Arsenal akan mencatat sejarah dengan meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Sementara bagi PSG, kemenangan akan membawa mereka meraih gelar Eropa kedua secara beruntun, menjadikan mereka klub Prancis pertama yang sukses mempertahankan trofi Liga Champions sekaligus mempertegas warisan Luis Enrique di Paris.
Melihat kekuatan kedua tim saat ini, laga final ini diprediksi akan berlangsung sangat seimbang dan sulit ditebak. Arsenal kemungkinan besar tetap mengandalkan situasi bola mati — senjata utama mereka sepanjang musim — untuk menekan PSG. Sementara itu, wakil Prancis tersebut harus membuktikan mentalitas sebagai juara bertahan Eropa. Bongdaplus memprediksi pertandingan akan berakhir imbang dalam 90 menit sebelum ditentukan lewat babak perpanjangan waktu, di mana daya tahan fisik dan mental akan menjadi penentu kemenangan.
